Kamis, 14 Maret 2013

Mengenang Sebuah Mimpi



Semalam saat tertidur aku bermimpi namun mimpi yang aku jumpai malam tadi terasa nyata. Begitu nyata dan asli enggak pakek tiruan atau sejenisnya tentunya. Kurang lebih 2 tahun lalu, aku mengenal seorang gadis *ciyeee*. Berwajah seperti campuran arab dan indo walau aslinya orang sunda, bertubuh tinggi dan langsing bak model catwalk. Ya sebut saja si eneng. Sekarang sih dia berada jauh dibogor sana. Dia asli bogor dan waktu smp pindah ke magelang karena ikut orangtuanya, tapi sekarang pindah lagi ke tempat asal di bogor sana. Bayangkan coba antara magelang sama bogor jauh amat kan, amat aja kagak jauh-jauh. Kalau dari magelang ke bogor mesti naek elang seperti dipelm indosiar itu *Sambil ngelus-elus elang*. (Adegan berbahaya jangan ditiru dirumah)
Nah dalam mimpi itu suatu siang bolong dan panasnya matahari enggak begitu menyengat karena langit sedang galau, bisa dibilang mendunglah. Lagi asik maenan hape neh, bbm.an sambil twitteran make smartphone mahal *sombong dikit bolehkan* ada orang ngetok-ngetok pintu sambil berkata “assalamualaikum” dengan merdunya. Ya 11 12 lah ama suaranya syahrini *haiyaaah*. Dalam hatiku, “Seperti kenal suara ini, sama kayak suaranya si eneng, tapi apa mungkin dia kembali ke magelang dari bogor dan menemuiku”. Dan karena begitu penasarannya aku berlari ke luar dan ternyata…oohhh ternyataaaaaa emak-emak jamu gendong *grubyaaaak*. Bener-bener zooonk sekali, seorang perempuan yang aku harapkan ternyata digantikan oleh figure seorang emak-emak jamu gendong yang udah jadi langganan kaka perempuanku. Jadi ya tiap hari datang kerumah buat bungkusin jamu buat kaka perempuanku. Dengan wajah murung dan haru aku balik ke kamar. Aku di buat galau oleh emak-emak jamu gendong yang mengingatkanku pada sesosok perempuan yang begitu aku sayang dulu. Dan enggak tau kenapa si eneng masih aja ngumpet dilubuk hatiku yang paling dalam *Tisu mana tisu*. Emak anakmu bontot galaaaauuu (jedotin kepala ke bantal)

Setelah beberapa jam kemudian

          Aku masih juga maenan hape sambil tiduran tiba-tiba di ruang tamu ada percakapan kecil antara emakku sama perempuan yang aku tak tau siapa. Karena hati lagi galau enggak aku gubris deh. Lanjut aja ngetwit di twitter dan nyetatus difacebook yang galau-galau pokoknya. Ehh tanpa aku sadarin ada sesosok perempuan yang berdiri di depan pintu aku. Aku liatin sekilas aja sih mungkin juga si emak ngecek anaknya lagi ngapain. Ehh sosok tersebut bukan seperti emakku dalam sekilas aku melihat. Kemudian aku menoleh lagi memandangnya. Dan ternyataaaaaa si eneng berdiri dengan senyumnya yang anggun dan mata yang berkaca-kaca. Akupun sungguh sangat tercengang melototin si eneng tanpa ada satu katapun keluar dari lubang mulutku, lubang idungku, dan lubang lubang yang lain.
          Setelah beberapa saat aku melongo doang, aku beranjak dari kasurku dan berjalan dengan langkah gontai berarah ke si eneng. Langkah kakiku gemetar, malah seluruh badanku gemetaran. Sempat aku berfikir ini si eneng apa bukan, apa makhluk halus yang berubah wujud jadi si eneng. Saat berjalan gemeteran menuju pintu aku sambil nengok kakinya si eneng nyentuh tanah apa enggak. Dalam hati sambil berdoa, “semoga nyentuh tanah – dibaca 10x”. *ekspresi terkejut yang berlebihan saking kagak percayanya*. Ternyata aman, kakinya nyentuh tanah. Matakupun mulai berkaca-kaca menahan haru dan tangis saat memandangnya dengan hati yang sudah di balut rindu tebal. Bagaimana bias enggak seperti itu orang sudah lama sekali enggak ketemu setelah kepergiannya dari magelang ke bogor. Saat didepannya aku hanya memandangnya, ingin berucap satu katapun tak bisa aku ungkapkan, dan kemungkinan si eneng juga begitu karena dia hanya menorehkan senyum saja kepadaku. Akhirnya aku hanya bisa mengangkat tangan kananku karena tangan kiriku masih membawa hape smartphone mahalku. Kemudian aku pegang pipinya yang begitu lembut. Tanpa disadari airmataku menetes membasahi lantai. Diapun juga meneteskan airmatanya dan membasahi lantai (diharapkan airmata kita berdua enggak bikin banjir kayak kota Jakarta). Setelah itu kita saling mengusap airmata yang jatuh dipipi. Tak tau kenapa bibirku berani berucap dan berbicara dengannya, “kamu semakin cantik dan banyak berubah ya, semakin tampak dewasa”. Dia pun membalas sambil menengok ke kamarku memandang foto kita berdua dulu, “Iya pa, bisa aja kamu tu. Emm itu foto masih dipajang ya?”. Aku pun menoleh kea rah foto itu dan menjawab, “Emm… Iya masih terpampang dari dulu di tembok situ dari dulu foto itu ditempelin di tembok itu sampai sekarang”. Dia membalas, “Kenapa masih dipajang disitu, kenapa gak disimpan aja?”. Aku dengan lantang menjawab, “Foto itu yang kamu sisakan untukku bersama kenangan kita dulu, dan dengan memandang foto itu juga aku mencari damai bersama bayanganmu saat aku bersedih karena teringat padamu. Si eneng pun tersenyum kecil sambil memegang pipiku. Setelah itu aku ajak dia ke duduk diruang tamu, sedangkan emakku lagi nyiapin cemilan sama minum di dapur. Lama orang aernya harus masak dulu, gulanya mesti beli dulu.
          Di ruang tamu kita saling bercakap-cakap dan aku bertanya kapan berangkat ke magelang dari bogor, naek apa, kenapa ke magelang enggak bilang-bilang dan banyak lagi lainnya. Si eneng menceritakan rencananya ke magelang dari bogor memang sudah disusun rapid an memang berniat tidak mengabariku terlebih dahulu. Setelah itu si eneng bercerita tentang pengalamannya di bogor sana dan begitu pula aku bercerita tentang kesibukanku setelah ditinggal jauh oleh si eneng. Ya waktu pertama bicara sih masih gugup-gugup gitulah, kayak murid SMP yang suruh maju gurunya kedepan kelas buat bercerita. Dan setelah lama bercerita juga akhirnya terbiasa sendiri. Setelah itu emakku datang membawa cemilan dan minuman buat si eneng. Si eneng bilang, “adu ibuk, enggak usah repot-repot gitu”. Emakku membalas, “enggak repot kok anak perempuanku, ayo diminum dulu”. Si eneng bilang, “Iya ibuk nanti eneng minum kok”. Maklum si eneng di panggil “anak perempuanku” karena emakku sudah menganggap dia seperti anak sendiri, hub emakku dan si eneng juga sudah deket sekali. Dulu waktu masih di magelang dan suka main kerumah kalau emakku udah ngobrol ama si eneng dah sampai kemana mana dan lama buanget dech. Maklum ibu-ibu pkk sama calon ibu-ibu pkk, klop banget deh kalo dah ketemu.
Waktupun mulai gelap dan akan segera tiba adzan magrib
          Semua pun sudah mandi dan wangi dengan sabun, sampo, dan parfum kesukaannya sendiri-sendiri (Gak boleh sebut merk). Kemudian kita sekeluarga menjalankan sholat magrib berjamaah. Karena bapakku dan kakak-kakakku lagi pergi ada juga yang kerja, ya aku dech yang jadi imamnya dengan 2 makmum putri yaitu emak dan si eneng. Sholat dan berdoapun telah dilalui. Setelah semua selesei aku merasakan begitu senangnya, begitu bahagianya, begitu nikmatnya sholat berjamaah dengan orang-orang yang kita sayangi. Aku terdiam dan membayangkan jika si eneng masih menetap dimagelang dan bisa berkumpul dengan keluargaku jika ada waktu luang (Maaaaaaak aku tambah galaaauuuu). Kemudian emakku mengajak makan aku dan si eneng karena tadi sore emak udah bela-blain masak enak karena kedatanagan si eneng *berharap si eneng datang kerumah setiap hari biar emakku masak enak terus, sambil senyum sinis*. Saat menuju ruang meja makan dan mengambil nasi ke piring tak sengaja tanganku menyenggol sebuah gelas dan terjatuh ke lantai. Pyaaaaaaaarrrr….. Setelah itu kalian tau apa yang terjadi, kalian tau apa itu?? Dan ternyata…….aku terbangun dari tidurku (nangis 7 hari 7 malem, tisu manaaa???). Ternyata aku cuma ngimpi aja, sungguh mimpi yang bener-bener bikin ngilu hati dan lebih parah dari sakit gigi seperti lagunya Meggy Z berbunyi “lebih baik sakit gigi daripada sakit hati”. Setelah di hantui mimpi itu aku galau dan yang pasti langsung update twitter, facebook,bbm yang galau-galau terus deh. Bodo orang mau bilang apa, orang lagi galau beneran. Coba mereka ada diposisi aku, kemungkinan besar sama sepertiku. Malah bisa lebih parah galau mereka daripada aku (Yang setuju angkat tangan kanan, tangan kiri sambil ngupil).

#Begitulah mimpi tergalauku tentang si eneng yang seperti nyata. Pliss yang respect sama aku, tolong belikan aku tissue yang banyak#

1 komentar: