Sabtu, 29 Desember 2012

UNY Siap Memimpin Pendidikan Karakter

Demografi dan globalisasi membawa perubahan tata nilai dan karakter anak bangsa. Nilai-nilai luhur luntur oleh nilai-nilai asing yang belum berakulturasi dan beradaptasi dengan baik. Dalam kondisi tersebut, maka karakter bangsa menjadi isu yang mencemaskan masyarakat. Sehubungan dengan hal itu, pendidikan tidak saja diharapkan menghasilkan insan yang cerdas dan terampil, tetapi juga mampu membangun insan Indonesia yang berkarakter, menjadi warga Negara yang produktif, inklusif dan menghargai keragaman budaya, sekaligus menjadi warga dunia yang menghargai nilai-nilai universal. Dalam konteks tersebut maka pendidikan tinggi di Indonesia diharapkan menjadi kunci bagi kemajuan bangsa dengan menghasilkan lulusan yang berkarakter, cerdas, dan terampil; memajukan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni baik melalui adaptasi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni untuk kemakmuran bangsa, maupun melalui penciptaan inovasi yang relevan bagi pembangunan.
UNY memiliki komitmen untuk melaksanakan dan mengawal pembentukan karakter bangsa Indonesia. Hal itu sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diemban sebagai lembaga penghasil tenaga pendidik dan kependidikan untuk semua jenjang pendidikan dan tenaga nonkependidikan dalam berbagai bidang kehidupan. Berikut ini butir-butir pemikiran Rektor UNY, Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A. tentang tekad UNY membangun insan berkarakter dan bermatabat.
Butir-butir pemikiran ini dapat dijadikan sebagai salah satu bahan pemikiran awal dan pemicu diskusi sehubungan dengan pelaksanaan Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia ke-7 (KONASPI VII). Harapannya, kegiatan KONASPI VII menghasilkan deklarasi “Dari Jogja untuk Indonesia”, utamanya berkenaan dengan penyiapan generasi emas sebagai penanda seabad usia kemerdekaan pada tahun 2045 nanti.
Tekad kuat UNY terhadap pendidikan karakter dengan pertimbangan bahwa pembangunan karakter dalam dunia pendidikan masih menjadi tema pokok yang rutin dikaji dan ditelaah. Pendidikan karakter merupakan pekerjaan bersama antara lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Tetapi lembaga pendidikan tetap berada didepan sebagai leader, sedangkan indikator kesuksesan pendidikan karakter adalah saat peserta didik mampu menjadi insan yang solutif menyelesaikan persoalan hidup secara mandiri, menjadi manusia yang independen, dan bersedia belajar semua hidup.
Pendekatan pendidikan karakter yang digunakan UNY bersifat komprehensif. Dalam arti bahwa pendekatan pendidikan karakter yang digunakan UNY bersifat komprehensif dalam antrian nilai-nilai yang dikembangkan cukup luas, yang ditemukan secara kolektif oleh semua komponen perguruan tinggi, yaitu pimpinan, dosen, pegawai administrasi, dan mahasiswa. Kemudian, semua komponen perguruan tinggi bersinergi dengan orang tua dan pemuka masyarakat, bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan karakter dan pembangunan kultur. Lalu, metode yang digunakan meliputi dua metode tradisional, yakni inkulkasi dan keteladanan, serta dua metode kontemporer yaitu fasilitasi nilai dan pengembangan soft skills.  Selain itu, tempat terselenggaranya pendidikan karakter, di samping di lembaga pendidikan juga melibatkan lingkungan keluarga dan masyarakat.
Menapaki usia 48 tahun ini, UNY bertekad untuk membangun insan berkarakter dan bermartabat. UNY terus berusaha mewujudkan sistem pendidikan tinggi yang menghasilkan insan yang berkarakter, cerdas, dan terampil untuk membangun bangsa Indonesia yang bermartabat dan berdaya saing melalui pengembangan ilmu, teknologi, dan seni untuk kemajuan dan kesejahteraan umat manusia yang berkelanjutan. Sementara itu, UNY tetap berkomitmen menjunjung tinggi etika akademik, moral, budaya, dan agama. Selain mewujudkan UNY menjadi universitas kelas dunia, komitmen ini juga untuk menjadikan UNY sebagai kampus terdepan dalam pendidikan karakter, guna menjawab krisis jati diri bangsa. Sebagai lembaga tinggi kependidikan, UNY ingin hasilkan lulusan yang punya identitas diri, sadar tugas kemanusiaan dan punya harga diri. Dengan kata lain bahwa membangun insan berkarakter dan bermartabat merupakan upaya kesadaran dalam memperbaiki dan meningkatkan seluruh perilaku yang mencakup adat istiadat, nilai-nilai, potensi, kemampuan, bakat dan pikiran bangsa kita ini.
Insan yang berkarakter adalah mereka yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki integritas, jujur, toleran, bersemangat kebangsaan, serta menjunjung tinggi nilai dan norma kebaikan. Cerdas dalam hal ini dimaksudkan adalah insan yang memiliki kecerdasan komprehensif yang meliputi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan kinestetik. Di samping itu, terampil dimaksudkan bahwa lulusan UNY memiliki keterampilan baik yang secara langsung terkait dengan bidang ilmu yang dipelajari (hardskill) maupun keterampian pelengkap (softskill) yang menjadikan mereka sebagai sumber daya manusia yang unggul.  (Tim Humas KONASPI VII)

Sumber : http://konaspi7.uny.ac.id/berita/uny-siap-memimpin-pendidikan-karakter

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education)  dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.
Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan dibawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.

 Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli
                                                                       Gambar: Keterkaitan antara komponen moral dalam rangka pembentukan 
Karakter yang baik menurut Lickona

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

1.  Pendidikan Karakter Menurut Lickona
Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.
2.  Pendidikan Karakter Menurut Suyanto
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun  negara.
3.  Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya
Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
4.  Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi
Menurut  kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29).

Nilai-nilai dalam pendidikan karakter

Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif,Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.
Lebih jelas tentang nilai-nilai pendidikan karakter dapat di lihat pada bagan dibawah ini
nilai-nilai pendidikan karakter
18 Nilai Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.
Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.

Nah demikianlah beberapa pengertian pendidikan karakter menurut para ahli, semoga bermanfaat.


Realisasi Pendidikan Karakter Sulit karena Minim Teladan

 

SEMARANG, KOMPAS.com - Banyak kalangan menyadari bahwa intoleransi dan sikap-sikap buruk lain yang tidak konstruktif bagi persatuan bangsa harus ditanggulangi. Caranya pun, termasuk yang melalui jalur pendidikan, telah banyak diketahui. Namun, hal itu tak mudah direalisasikan karena adanya sejumlah hambatan.

Benang merah itu muncul dari Seminar Nasional Pendidikan yang diselenggarakan dalam rangka peringatan 50 Tahun Keluarga Eks Kolese Loyola (KEKL) di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (22/12). Acara yang didukung Kompas dan Penerbit Kanisius ini menampilkan tiga pembicara, yakni Rm Mudji Sutrisno dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta; Rm Paul Suparno dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta; dan Edmund Sutisna, alumnus yang berkiprah di Yayasan Pendidikan Jaya, Jakarta. Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang dijadwalkan tampil sebagai pembicara kunci berhalangan dan diwakili Staf Khusus Alex Wijoyo.

Di satu sisi Indonesia sangat membutuhkan sejumlah karakter untuk menjadi kokoh dan maju, antara lain multikultural, menghargai pribadi manusia, adil, jujur, disiplin, punya daya tahan, dan taat pada hukum. Yang pertama, terkait dengan kerisauan Mudji Sutrisno melihat gejala intoleransi yang akhir-akhir ini merajalela.

”Namun, upaya untuk menanggulanginya sulit karena kemajemukan sering dipandang sebagai ’sudah ada dari sononya’, hingga abai dirawat (taken for granted),” tutur Mudji.

Sementara menurut Paul, melalui pendidikan, siswa bisa diajarkan menghargai perbedaan melalui tinggal bersama dengan komunitas berbeda (live in), dan kemudian merefleksikannya. Namun, pendidikan untuk memajukan karakter lain seperti keadilan, kejujuran, taat pada hukum diakui juga tidak mudah. Hal ini karena ada sejumlah hambatan, misalnya saja karena kurangnya teladan tokoh masyarakat yang berkarakter baik (bahkan yang sering diberitakan adalah tokoh yang berkarakter kebalikan dari yang dibutuhkan).

Dalam acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin yang mewakili Wali Kota Semarang ini, Menteri Pertahanan menyatakan, penetapan tanggal 19 Desember sebagai Hari Bela Negara meniscayakan keterlibatan bukan saja militer, melainkan juga nonmiliter untuk mewujudkan sistem pertahanan semesta. Yang dibutuhkan di sini adalah sosok pribadi yang terampil, disiplin, dan ulet. (nin)
 
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Caroline Damanik
Sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2012/12/26/10031183/Realisasi.Pendidikan.Karakter.Sulit.karena.Minim.Teladan?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Bermalas Diri

Bermalas diri memang enak sekali. ponsel sengaja saya matikan. saya ingin sehari bebas tanpa ponsel. sekedar uji coba apakah banyak orang yang menghubungi saya. Saya ingin bebas dan tidak ingin diperlata dengan barang yang bernama ponsel atau handphone. Saya biarkan saja ponsel dimatikan sambil mencharger baterainya biar penuh.
Bermalas diri terkadang diperlukan. tapi jangan sampai keterusan. sehari dua hari bolehlah untuk memanjakan diri. asalkan jangan keterusan setiap hari. bisa repot deh, karena hidup harus bekerja mencari nafkah buat keluarga. Kecuali, bila duit memang sudah mengalir dengan sendirinya. Orang menyebutnya Pasive income.
orang malas biasanya jauh dari sukses. sebab tak ada orang sukses dari kemalasan diri.
kemalasan harus dilawan oleh diri sendiri. siapa yang mampu melawan kemalasan diri, maka dia akan menjadi pemenangnya. “mengalahkan ribuan orang belum tentu disebuat sebagai pemenang, tapai mampu mengalahkan diri sendiri, itulah yang disebut penakluk gemilang”.
bermalas diri boleh saja dilakukan. asalkan sebagai ajang introspeksi diri di akhir tahun. mampu melihat kembali kaleidoskop diri. dengan begitu kamu tahu kekuranganmu. kamu tahu apa yang harus kamu perbaiki di tahun baru. Bukankah setiap hari adalah tahun baru  bagiku?

Android Sebagai Ajang Belajar dan Pembelajaran

 

Android sepertinya sudah sangat susah jika dipisahkan dari kehidupan dunia saya, sebagai seorang Blogger yang menggunakan media Blog sebagai ajang belajar dan pembelajaran. Dimana setiap saya belajar satu ilmu maka akan saya berikan beberapa ilmu yang saya punya kepada para pengunjung blog saya. Nah, tak lupa pula menjalin persahabatn dengan beberapa teman yang mempunyai hobi atau kesukaan yang sama, seperti halnya di BelajarDroid dimana pada portal tersebut adalah ruang bagi kita untuk membagikan semua ilmu tentang Android. Ilmu itu tidak yang selalu berkelas atau expert, terkadang ilmu terkecil adalah kunci pembuka bagi ilmu ilmu yang besar. Contoh aja kalau kita tidak bisa membuka kunci pada Android kemungkinan kita tidak akan tahu bagai mana cara mengoperasikan sebuah gadget dengan OS Android, hal – hal seperti inilah yang terkadang dilupakan padahal kalau ditelusur lebih dalam lagi ilmu seperti ini sangat dibutuhkan bagi para pengguna baru Android.
Android Sebagai Ajang Belajar dan Pembelajaran
Seperti Pepatah yang sering kita dengar, “awalilah sesuatu mulai dari yang kecil” nah dengan itu layaknya saya sebagai pengguna Android mendeklarkan diri Android Sebagai Ajang Belajar dan Pembelajaran. Kenapa begitu, dengan dukungan dari berbagai macam latar belakang developer kita bisa menjadikan aplikasi yang ada di Google Play sebagai sebuah aplikasi yang bisa digunakan sebagai pendukung untuk membagikan ilmu. Coba kalian search “Games For Kids” memang sebuah game namun prosentasenya hampir 65% semua sudah mendukung untuk meningkatkan kinerja otak kanan dan otak kiri. Apalagi pengguanaan layar sentuh yang bisa mengoptimalkan motorik anak, disamping itu pula gambar dan warna warna yang cerah pada sebagian besar games for kids ini bisa menambahkan kepekaan anak terhadap warna dan ini merupakan faktor pembentuk kinerja Otak kanan. Dimana sebagian besar para pengguna otak kanan akan lebih berkecimpung dalam dunia seni, bukankah anak anak itu adalah otak seni :D 

Terus kelanjutannya, yah seperti penjabaran diatas dengan android saya bebas melakukan apa saja dalam segi belajar dan pembelajaran. Itulah kenapa saya mulai mencari tempat seperti komunitas dan portal selain bisa menyerap juga memberikan, akhirnya menemukan BelajarDroid yang cocok dengan ide dasar saya dalam membangun blog ini. Disana kita bisa menjadi author atau penulis lalu apa yang kita dapat jika menjadi author pada portal tersebut? yang jelas kamu bisa membagi ilmu pengetahuan tentang dunia Android di situs http://belajardroid.com namun jika ditinjau lebih luas lagi situs tersebut mirip dengan social bookmarking yang selalu menjadi bahan spam di dunia maya untuk meningkatkan dan mendongkrak sebuah artikel maupun blog pada SERP. Mungkin jika portal android mempunyai nama dan lebih baik serta bagus akan sebagai ladang spam oleh Blogger yang kurang bertanggung jawab. Dengan mensubmit berbagai macam tulisan dan tanpa memperhatikan TOS yang sudah dibuat pada halaman ini http://belajardroid.com/submit-page


Source images http://androidistic.com
PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS DIKLAT
 
 A.    Pendahuluan

Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan dalam pembangunan nasional berupa mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, artinya manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan pendidikan nasional, apabila ditinjau dari taksonomi tujuan pendidikan lebih memfokuskan pada ranah afektif atau sikap. Ranah afektif terlihat pada kalimat Beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti luhur, kepribadian yang mantap dan rasa tanggung jawab. Ranah kognitif pada kalimat pengetahuan dan ranah psikomotor pada kalimat keterampilan dan kesehatan jasmani.

Kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif peserta didik untuk membangun makna atau pemahaman terhadap suatu objek atau suatu peristiwa. Sedangkan, kegiatan mengajar merupakan upaya kegiatan menciptakan suasana yang mendorong inisiatif, motivasi dan tanggung jawab pada peserta didik untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam membangun gagasan melalui kegiatan belajar sepanjang hayat. Gagasan dan pengetahuan ini akan membentuk keterampilan, sikap, dan perilaku sehari-hari sehingga peserta didik akan berkompeten dalam bidang yang dipelajarinya. Kegiatan belajar dan mengajar inilah yang disebut orang sebagai pembelajaran (Depdiknas, 2003 : 10).

Alat bantu belajar merupakan semua alat yang dapat digunakan untuk membantu peserta didik melakukan perbuatan belajar, sehingga kegiat¬an belajar menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan bantuan berbagai alat, maka pelajaran akan lebih menarik, menjadi konkrit, mudah dipahami, hemat waktu dan tenaga, dan hasil belajar lebih bermakna. Alat bantu belajar disebut juga alat peraga atau media belajar, misalnya dalam bentuk bahan tercetak, alat-alat yang dapat dilihat, alat yang dapat didengar (media audio), dan alat-alat yang dapat didengar dan dilihat (audio visual aids), serta sumber–sumber masyarakat yang dapat dialami secara langsung (Hamalik, 1999 : 51).

Media pembelajaran adalah sarana yang dapat dimanipulasikan dan dapat digunakan mempengaruhi pikiran, perasaan, perhatian dan sikap peserta didik, sehingga mempermudah terjadinya proses pembelajaran. Pikiran, perasaan, perhatian dan sikap peserta didik dalam pembelajaran dapat dirangsang dengan menggunakan media pembelajaran. Pemanfaatan media pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Efektifitas dapat diartikan sejauh mana hal-hal yang direncanakan dapat terlaksana.dalam arti bahwa apabila hasilnya menunjukan presentase yang besar atau tidak jauh dari perencanan maka dapat dikatakan bahwa hal tersebut cukup efekif dan sebaliknya apabila hasilnya jauh dari perencanaan yang ada maka dapat dikatakan hal tersebut tidak efektif (Henyat, 1993: 50). Dengan digunakannya media pembelajaran, maka diharapkan peserta didik akan mudah dalam menyerap mata pelajaran yang dipelajari, sehingga akan mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. 

B.    Pendidikan dan Pelatihan

Semua karyawan yang baru bekerja, pada umumnya masih belum mempunyai kecakapan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan oleh perusahaan di mana ia bekerja. Tidak jarang pada karyawan baru yang diterima bekerja tidak mempunyai kemampuan secara penuh untuk melaksanakan tugas-tugas pekerjaan mereka. Setelah karyawan direkrut, dipilih dan dilantik atau diperkenalkan, selanjutnya dia harus dikembangkan agar lebih sesuai dengan pekerjaan dan organisasi atau perusahaan. Tidak seorangpun yang sepenuhnya sesuai pada saat pengangkatan, sehingga harus dilakukan pendidikan dan latihan.

Moekijat (1990 : 58-62) menjelaskan berbagai jenis pendidikan dan latihan bagi pegawai yaitu :
a.    Pendidikan dan latihan awal, yaitu pendidikan dan latihan yang bersifat pra jabatan (pre service training) dengan tujuan memberikan pengetahuan, kemampuan, penyesuaian sikap dan kepribadian dengan tugas jabatan yang akan dipangkunya bagi pegawai yang belum mempunyai status pegawai atau calon pegawai.
b.    Pendidikan dan latihan jabatan struktural, yaitu pendidikan dan latihan yang menyangkut peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan guna memenuhi persyaratan jabatan struktural tertentu.
c.    Pendidikan dan latihan kedinasan, yaitu upaya pemberian bekal atau peningkatan atau pemantapan pengetahuan dan ketrampilan yang sesuai dengan profesinya.
d.    Pendidikan dan latihan khusus, yaitu pendidikan dan latihan yang menyangkut peningkatan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan keahlian khusus yang bermanfaat bagi pegawai.
e.    Pendidikan dan latihan penataran, yaitu pendidikan dan latihan guna meningkatkan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan keahlian pegawai sesuai dengan bidang tugasnya dalam meningkatkan daya guna dan hasil guna pegawai.
f.    Pendidikan dan latihan penjenjangan, yaiu pendidikan dan latihan yang terdiri dari berbagai tingkatan, disesuaikan dengan kualitas yang diperlukan untuk memelihara kontinuitas pembinaan aparatur pemerintah dan diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan jabatan yang sama, dan atau perpindahan jabatan yang setingkat serta persiapan bagi mereka yang akan dipromosikan ke jenjang golongan kepangkatan atau jabatan yang setingkat lebih tinggi.
Kegiatan pendidikan dan latihan yang dilakukan perusahaan menurut Handoko (1995 : 103) mempunyai dua tujuan utama yaitu :
a.    Pendidikan dan latihan dilakukan untuk menutup gap antara kecakapan atau kemampuan karyawan dengan permintaan jabatan.
b.    Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas kerja karyawan dalam mencapai sasaran-sasaran kerja yang telah ditetapkan.
Berdasarkan pada tujuan pendidikan dan latihan tersebut, dapat diketahui bahwa program tersebut ternyata tidak saja diperlukan oleh karyawan baru, tetapi juga duperlukan oleh karyawan yang sudah bekerja lama yang ditujukan untuk peningkatan prestasi kerja mereka. 

Pendidikan dan latihan yang dilakukan perusahaan terhadap karyawannya dilakukan dengan mendasarkan pada kebutuhan, tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran program, isi dan prinsip-prinsip belajar. Bagaimanapun, seseorang seharusnya tidak berhenti belajar setelah menamatkan sekolahnya (pendidikan formal), karena belajar adalah suatu proses seumur hidup (life-long process), sehingga pendidikan dan latihan bersifat kontinyu dan dinamis.

C.    Pengertian Pembelajaran

Istilah pendidikan mengandung unsur bimbingan pengajaran dan latihan. Pendidikan lebih menitikberatkan pada pembentukan kepribadian, bimbingan berhubungan dengan bantuan kepada peserta didik agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pengajaran berhubungan dengan penyampaian pengetahuan kepada peserta didik. Latihan berhubungan dengan pemberian atau pembentukan ketrampilan kepada peserta didik (Hamalik, 1999 : 55).

Dalam rangka pengajaran, perkembangan selanjutnya dewasa ini di populerkan istilah pembelajaran. Pengajaran atau instruction titik berat tinjauannya dari segi pendidik atau guru, sedangkan pembelajaran lebih menitik beratkan tinjauannya dari segi peserta didik. Menurut Hamalik (1999 : 57) pembelajaran merupakan kombinasi yang tersusun atas unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Unsur manusia terdiri atas peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lainnya. Unsur material meliputi buku-buku, papan tulis, kapur, fotografi, slide, film audio, audio tape, fasilitas dan perlengkapan terdiri atas ruangan kelas, perlengkapan, audio visual, komputer. Produser meliputi jadwal, metode penyampaian informasi, praktek, belajar, evaluasi / ujian dan sebagianya. Dalam kegiatan pembelajaran ada dua kegiatan yang terjadi, yaitu guru mengajar dan peserta didik belajar. Jadi ada dua peristiwa atau proses menjadi satu, yaitu proses belajar mengajar untuk selanjutnya dipakai pembelajaran.

D.    Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran dapat dilihat dari kebutuhan peserta didik, mata pelajaran dan guru. Berdasarkan kebutuhan peserta didik dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dan dikembangkan dan diapresiasikan. Berdasarkan mata pelajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para peserta didik, dan guru harus mampu menulis dan memilih tujuan-tujuan pendidikan yang bermakna, dan dapat terukur (Hamalik, 1999 : 76).
Dalam pembelajaran harus memperhatikan tujuan dari pembelajaran, di mana tujuan program kegiatan belajar adalah membantu meletakan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan keterampilan, dan daya cipta anak didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

E.    Pengertian Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin medius  yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah perantara (wasaail) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan (Arsyad, 2004 : 3).
Adapun Gerlach dan Ely (dalam Arsyad :3) mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.
Menurut definisi di atas dapat dipahami bahwa guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media yang menjadi perantara atau penyampai pesan kepada peserta didik. Guru termasuk juga sebagai media karena guru sebagai tenaga pengajar bekerja untuk mentransfer pengetahuan yang dimilikinya (penyampai ilmu atau ajaran) kepada peserta didik. Begitu pula buku bisa dikatakan sebagai media karena buku memuat informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk dipelajari dan dipahami. Lingkungan sekolah sebagai tempat dimana peserta didik belajar dan berinterakasi dengan warga sekolah jelas merupakan media yang akan memberikan pesan, berita, atau kabar kepada peserta didik, namun besar tidaknya pesan yang didapat oleh peserta didik bergantung pada kreatifitas peserta didik dalam mencari pesan melalui lingkunganya.
Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Istilah media sering dipakai dalam dunia komunikasi yang disebut dengan media komunikasi. Media komunikasi inilah di era kekinian dimanfaatkan dalam dunia pendidikan untuk menunjang jalanya proses belajar mengajar. Danim (2000 : 2) menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi komunikasi untuk kegiatan pendidikan, teknologi pendidikan serta media pendidikan perlu dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Karena dengan pendekatan ilmiah, sistematis dan rasional, sebagaimana dituntut oleh teknologi pendidikan ini pulalah, tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai.

 Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi antara  pendidik dan peserta didik untuk melakukan transfer pengetahuan (knowledge), maupun penanaman (internalisasi) nilai-nilai (values). Maka pendidik di sini disebut sebagai mediator yang menyampaikan informasi-informasi tentang pengetahuan yang dimilikinya kepada peserta didik, atau juga dalam rangka menanamkan nilai-nilai luhur suatu ajaran, baik yang bersumber pada budaya bangsa, masyarakat, atau kelompok agama tertentu. 

Adapun definisi media menurut para ahli adalah sebagai berikut: (1) AECT (Asociation Of Education And Communication Technologi) mendefinisikan media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Sedangkan media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyampaikan pesan (Depdiknas, 2003 :10). Yang dimaksud sesuatu di sini adalah apa saja yang memiliki guna sebagai perantara untuk menyampaikan pesan entah itu berupa lisan atau alat peraga yang mengisyaratkan maksud tertentu dan bisa dipahami oleh orang yang menerima pesan, atau dalam konteks pembelajaran adalah peserta didik didik (pelajar), atau muta’allim dalam bahasa arabnya. (2) Heinich dan kawan-kawan  memberi batasan tentang media sebagai perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima (Arsyad, 2004: 4).

Jadi televisi, radio, film, foto, rekaman audio, gambar yang diproyeksikan, bahan cetakan dan sejenisnya adalah media yang disebut dengan media komunikasi. Namun apabila media-media itu membawa pesan-pesan atau informasi-informasi yang bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut dengan media pembelajaran.

Bagaimana apabila media pembelajaran dihubungkan dengan media pendidikan ?. Media pendidikan tentu saja media yang digunakan dalam proses dan untuk mencapai tujuan pendidikan (Depdiknas, 2003 : 10). Pada hakekatnya media pendidikan juga merupakan media komunikasi, karena proses pendidikan juga merupakan proses komunikasi. Apabila kita namdingakan dengan media pembelajaran, maka media pendidikan sifatnya lebih umum, sebagaimana pengertian pendidikan itu sendiri. Sedang media pembelajaran memiliki sifat yang lebih khusus, maksudnya media pembelajaran merupakan bagian dari media pendidikan yang secara khusus digunakan untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah dirumuskan secara khusus. Tidak semua media pendidikan adalah media pembelajaran, akan tetapi setiap media pembelajaran merupakan bagian dari media pendidikan.

Sementara Gagne dan Briggs (Arsyad, 2004: 5) secara implisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku, tape recorder, video camera, video recorder, film, slide (gambar bingkai), foto, gambar, grafik, bingkai, dan komputer. Dengan kata lain media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan peserta didik yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar. Di lain pihak National Education Asociation memberikan definisi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio-visual dan peralatannya; dengan demikian media dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, atau dibaca.

Dalam kegiatan belajar mengajar, pemakaian kata media pembelajaran (wasaa’il at ta’limiyah) digantikan dengan istilah-istilah seperti alat pendengar, bahan pengajaran (instrucsional material), komunikasi pendang dengar (audio visual communication), pendidikan alat peraga pandang (visual education) teknologi pendidikan (educational technology), alat peraga (wasaail al-iidzochi) dan media penjelas (wasaail at taudhiichiyyah ) (Arsyad, 2004 : 6).

Berdasarkan uraian beberapa definisi tentang media di atas, berikut dikemukakan karakteristik umum yamg melekat pada setiap definisi tersebut.
a    Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal dengan istilah hardware (perangkat keras), yaitu suatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan pancaindera.
b    Media pendidikan yang memiliki pengertian nonfisik yang sering disebut dengan istilah software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan materi atau informasi-informasi yang hendak disampaikan kepada peserta didik.
c    Media pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi media visual, audio, dan audio-visual. Media visual yaitu media yang memiliki bentuk, dapat dilihat, dan dapat diraba. Media audio yaitu media yang hanya dapat di dengar saja. Adapun media audio visual adalah media yng memiliki bentuk dapat dilihat,  dan diraba, serta dapat pula di dengar karena menyerupai makhluk hidup yang mengeluarkan suara.
d    Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik yang berada di dalam maupun yang berada di luar kelas.
e    Media pendidikan dalam rangka komunikasi dan interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
f    Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya : radio dan televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya, film, slide, video dan OHP), atau perorangan (misalnya modul, komputer, radio,  dan tape recorder).
g    Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.

Berbeda denga para ahli yang telah tersebut dalam beberapa paragraf terdahulu. Slameto (2003 :67) menyebut media pembelajaran dengan alat pelajaran. Alat pelajaran erat hubunganya dengan cara belajar peserta didik, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru pada waktu mengajar dipakai pula oleh peserta didik untuk menerima bahan yang diajarkan oleh guru tersebut. Alat pelajaran yang tepat akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada peserta didik. Jika peserta didik mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan menjadi lebih giat dan lebih maju.

Realita saat ini dengan banyaknya tuntutan yang masuk sekolah, maka memerlukan alat-alat yang membantu lancarnya belajar peserta didik dalam jumlah yang besar pula, seperti buku-buku di perpustakaan, laboratorium atau media-media lain. Kebanyakan sekolah masih kurang memiliki media dalam jumlah maupun kualitasnya, sehingga terkadang proses belajar mengajar dilaksanakan secara alakadarnya, dan bisa dipastikan hasilnya juga jauh dari kondisi ideal, yakni output pendidikan yang berkualitas tinggi.

F.    Ciri-ciri Media Pembelajaran

Gerald dan Ely (Arsyad, 2004 : 12) mengemukakan tiga ciri media  yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dalam pembelajaran, yang dapat dilakukan media dalam membantu seorang guru menjelaskan atau menerangkan sebuah materi pelajaran. Ciri-ciri tersebut adalah :
a.    Ciri Fiksatif (fixatife property)
Ciri ini mendiskripsikan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek. Suatu peristiwa atau obyek dapat diurut dan disusun secara sistematis dan kronologis melaui media seperti fotografi, video tape, audio tape, disket komputer, dan film. Suatu obyek yang telah diambil gambarnya  (direkam) dengan menggunakan kamera atau video kamera dapat direproduksi (dibuat ulang) dengan mudah kapan saja dibutuhkan. Dengan ciri fiksatif ini, media memungkinkan suatu rekaman kejadian atau obyek yang terjadi pada suatu waktu tertentu dapat ditransportasikan tanpa mengenal waktu, karena telah diabadikan melalui rekaman.
Ciri-ciri yang sangat penting bagi guru adalah karena kejadian-kejadian atau obyek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat. Peristiwa yang kejadianaya hanya sekali  (dalam satu dekade atau satu abad) dapat diabadikan dan disusun kembali untuk keperluan suatu pengajaran, gerhana matahari, atau gunung meletus misalnya. Prosedur laboratorium yang rumit dapat direkam dan  diatur untuk kemudian direproduksi kembali ketika dibutuhkan untuk kepentingan pengajaran.  Begitu pula kegiatan peserta didik dapat diabadikan dan direkam untuk kemudian dilakukan proses evaluasi baik oleh peserta didik sendiri secara perorangan maupun secara kelompok.

b.    Ciri Manipulatif (manipulatif property)
Merubah suatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiliki ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kembali kepada peserta didik dalam waktu yang singkat dengan teknik pengambilan gambar. Misalnya, bagaimana proses larva menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu  (metamorfosis kupu-kupu) dapat dipercepat dengan tehnik rekaman fotografi.  Disamping dapat dipercepat suatu kejadian, suatu kejadian dapat juga diperlambat pada saat menayangkan kembali hasil sustu rekaman video, dengan memanfaatkan fasilitas yang ada pada video. Misalnya reaksi kimia atau untuk mengetahui kebenaran terjadinya pelanggaran dalam suatu permainan sepak bola dapat diamati melalui bantuan kemampuan manipulatif dari media. Demikian pula suatu aksi atau suatu gerakan dapat direkam dengan foto kamera agar bisa diamati atau sekedar dilihat saja.
Pada rekaman gambar hidup seperti film kejadian dapat diputar mundur. Media (rekaman video atau audio) dapat diedit sehingga guru hanya menampilkan bagian-bagian inti atau bagian utama dari keterangan atau kejadian yang sedang dijelaskan oleh guru kepada peserta didiknya, sedangkan bagian-bagian yang tidak begitu diperlukan dapat dipotong atau dilewati dengan menggunakan fasilitas yang ada pada media yang merupakan hasil dari tekhnologi mutakhir.
Kemampuan media dari ciri manipulatif memerlukan keseriusan dan kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan  dalam memanipulasi isi yang ada pada media, semisal jika terjadi kesalahan pemotongan suatu kejadian dalam rekaman video bisa jadi akan menimbulkan salah penafsiran bagi peserta didik yang sedang mendapat tugas untuk melakukan pengamatan terhadap isi dari rekaman video tersebut.
Memanipulasi atau merubah suatu kejadian atau obyek tertentu dengan memanfaatkan atau dengan cara mengedit hasil rekaman dapat menghemat waktu. Semisal proses penanaman gandum hingga masa panen tiba, kemudian gandum diolah menjadi tepung sebagai bahan baku untuk membuat roti dapat disajikan secara singkat dalam suatu rekaman. Sehingga memiliki nilai efisiensi yang tinggi dan tentunya juga sangat efektif, karena mengamati suatu hal yang nampak tentunya tidak sesulit mengamati hal abstrak.     

c.    Ciri Distributif (distributif property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu obyek atau suatu informasi untuk ditransformasikan melalui ruangan dan secara bersamaan disajikan kepada peserta didik. Dewasa ini distribusi  media tidak terbatas pada satu kelas saja, atau dalam satu lingkup sekolah saja, akan tetapi media pembelajaran seperti kaset rekaman, video, atau disket komputer bisa didistribusikan kemana saja sesuai dengan kebutuhan. Karena media seperti itu merupakan media praktis dengan bobot ringan dan ukurannya juga tidak besar, sehingga ada kemudahan untuk mendistribusikannya ke daerah terpencil sekalipun, tinggal ada atau tidak peralatan pendukung yang digunakan untuk mengoperasikan media tersebut.

Sebuah informasi atau suatu kejadian  yang direkam dalam suatu waktu, bisa diproduksi ulang beberapa kali dan siap untuk digunakan secara bersamaan meskipun dalam tempat yang terpisah. Semisal proses perubahan katak mulai dari telur katak, kemudian berubah menjadi kecebong, dan akhirnya menjadi katak dewasa dapat direkam melalui handycam. Kemudian proses metamorfosa katak yang telah terekam melalui handycam ini dapat digandakan dan disebarluaskan ke seluruh pelosok sekolah yang ada di Indonsia misalnya untuk dijadikan sebagai media yang mempermudah seorang pendidik untuk menyampaikan pengetahuan tentang metamorfosa katak ini kepada para peserta didiknya. Dan informasi yang telah terekam ini juga tidak rusak hanya dalam sekali waktu pemakaian saja kecuali terjadi kerusakan tertentu yang disebabkan oleh hal-hal nonteknis, sehingga ketika diputar ulang dalam waktu dan ruang yang berbeda isinya akan tetap sama
 
G.    Macam-Macam Media Pembelajaran

Seperti telah diuraikan pada pembahasan terdahulu bahwa media pembelajaran merupakan pesan, orang, dan peralatan. Seiring berkembangnya teknologi yang merupakan hasil kreatifitas manusia masa kini, maka media pembelajaran masa kini juga berkembang begitu pesatnya, bahkan media pembelajaran masa kini sudah banyak yang menggunakan teknologi dalam pengoperasianya selain media itu sendiri juga merupakan produk yang dihasilkan oleh teknologi.

Media pembelajaran modern antara lain radio, televisi, tape recorder, komputer, internet, OHP, proyektor dan lain-lain. Semua media pembelajaran tersebut merupakan hasil pemikiran manusia yang diwujudkan dalam dunia nyata. Namun sayangnya meskipun media pembelajaran berbasis teknologi telah berkembang begitu pesatnya, akan tetapi tidak banyak guru atau pendidik yang memiliki kecakapan untuk mengoperasikan media tersebut meskipun mereka telah mengenalnya. Apapun kendalanya, baik karena tidak bisa mengaktifkan media tersebut atau kendala pendanaan. Meskipun bisa mengoperasikan akan tetapi karena sekolah atau guru pribadi tidak memilikinya, sehingga tidak bisa diperagakan di hadapan peserta didiknya.

Namun tentunya usaha-usaha untuk mewujudkan media pembelajaran berbasis teknologi perlu mendapatkan perhatian serius oleh para penyelenggara pendidikan, karena efektifitas dan efisiensi media tersebut dalam menunjang proses belajar mengajar tidak bisa dinafikan.

Ada berbagai cara dan sudut pandang untuk mengklasifikasikan media pembelajaran. Misalnya mengidentifikasi media pembelajaran berdasarkan tiga unsur pokok, yaitu suara, visual, dan gerak. Berdasarkan tiga unsur pokok tersebut Bretz (Rahadi, 2003 :21) mengklasifikasikan media ke dalam tujuh kelompok, yaitu : media audio, media cetak, media visual diam, media visual gerak, media audio semi gerak, media semi gerak, media audio visual diam, media audio visual gerak.
Anderson (Rahadi, 2003 :21) mengelompokkan media menjadi 10 golongan sebagai berikut :
 
No.
Golongan Media
Contoh dalam Pembelajaran
1.       
Audio
Kaset tape recorder, cd audio, siaran radio, dan telepon atau telewicara.
2.       
Cetak
Buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar, dan makalah.
3.       
Audio-cetak
Kaset audio yang dilengkapi ahan tertulis
4.       
Proyeksi visual diam
Overhead Tranparansi (OHT) dan film bingkai (slide)
5.       
Proyeksi audio visual diam
Film bingkai (slide) bersuara
6.       
Visual gerak
Film bisu
7.       
Audio visual gerak
Film gerak bersuara, VCD, dan televisi
8.       
Obyek fisik
Benda nyata, model, spesimen
9.       
Manusia dan lingkungan
Guru, Budayawan, Ekonom, Pustakawan, laboratorium, kebun binatang, cagar alam, sungai, hutan, sawah, dan lautan
10.   
Komputer
CAI (pembelajaran berbantuan komputer) dan CBI (pembelajaran berbasis komputer)
 
Klasifikasi berbagai macam media berdasarkan perkembangan teknologi menurut Seel dan Glasgow (Arsyad, 2004 : 33) dibagi ke dalam dua kategori luas yaitu : pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir :
a.    Pilihan Media Tradisional :
1)    Visual diam yang diproyeksikan seperti : proyeksi opaque (tidak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, filmstrips.
2)    Visual yang tidak diproyeksikan seperti : gambar dan poster, foto, charts, grafik, diagram, pameran, papn info, papan-bulu.
3)    Audio seperti rekaman piringan, pita kaset, reel, catridge.
4)    Penyajian multimedia, slide plus suara (tape), multi-image.
5)    Visual dinamis yang diproyeksikan seperti film, televisi, video.
6)    Cetak seperti buku teks, modul, teks terprogram, workbook, majalah ilmiah berkala, lembaran lepas (hand out), koran.
7)    Permainan seperti teka-teki, simulasi, permainan papan.
8)    Realita seperti model, specimen (contoh), manipulatif (peta, boneka)
b.    Pilihan Media Teknologi Mutakhir
1)    Media berbasis telekomunikasi seperti telekonferen dan kuliah jarak jauh.
2)    Media berbasis mikroposesor seperti computer-assisted instruction, permainan komputer, sistem tutor inteligen, interaktif, hypermedia, compact (video) disc.

Dari beberapa pengelompokan media tersebut dapat kita ketahui bahwa belum ada media yang mencakup segala aspek, terlebih bagi media yang dimanfaatkan untuk memudahkan penyampaian pesan atau informasi pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik dalam proses belajar mengajar atau sering disebut dengan media pembelajaran. Media pembelajaran yang ada dibuat dan disajikan atas dasar kepentingan-kepentingan tertentu.

Alangkah baiknya bagi seorang  pendidik atau seorang guru untuk senantiasa mengikuti perkembangan teknologi terlebih yang berkaitan dengan media pembelajaran. Akan menjadi lelucon nantinya apabila seorang guru tidak lebih mengenal perkembangan teknologi informasi yang sering dimanfaatkan untuk media pembelajaran dibanding peserta didik-peserta didiknya. Bahkan secara psikologis juga bisa berdampak pada jatuhnya wibawa seorang guru dihadapan peserta didik karena peserta didik merasa bahwa dirinya lebih maju dari gurunya ketika mengetahui kenyataan gurunya gaptek (gagap teknologi) sehingga peserta didik memiliki kemungkinan untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak daripada gurunya mengenai suatu pengetahuan tertentu.

H.    Pemanfaatan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Efektivitas Diklat

Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah perkembangan dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita bahwa bangsa yang maju, modern, makmur, dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki sistem dan praktik pendidikan yang bermutu. Sementara itu, pendidikan yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat.
Dalam suatu proses belajar mengajar yang terpenting dikuasai oleh seorang  guru adalah metode mengajar dan kemampuan widyaiswara untuk menggunakan media pembelajaran. Metode pengajaran yang digunakan oleh widyaiswara akan menentukan media pembelajaran apa yan akan digunakan oleh widyaiswara. Meskipun disadari ada aspek lain yang menentukan keputusan seorang widyaiswara untuk menggunakan media pembelajaran tertentu seperti tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik setelah proses pengajaran berlangsung, konteks pembelajaran, dan tentunya juga karakteristik peserta didik yang diajar. Namun demikian dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama dari media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang memiliki peran untuk mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang diatur dan diciptakan oleh seorang widyaiswara.
Hamalik (Arsyad, 2004 : 15) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keaktifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan pembelajaran pada saat itu. Selain mebangkitkan motivasi dan minat peserta didik, media pembelajaran juga dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi.
Levie dan Lentz (Arsyad, 2004 : 16), mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian peserta didik untuk konsentrasi terhadap isi dari pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pembelajaran.

Fungsi afektif media pembelajaran dapat diungkap melalui tingkat kenikmatan peserta didik ketika membawa teks bergambar. Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi  dan sikap peserta didik sebagai wujud responnya terhadap gambar yang dia amati. Semisal gambar yang menyangkut masalah sosial, ras, agama, dan kebudayaan. Gambar-gambar itu akan direspon peserta didik dengan suatu komentar dan sikap tertentu yang menunjukkan pemikiran yang terbangun dalam diri peserta didik setelah mengamati dan mencermati gambar tersebut.
Fungsi kognitif media, khususnya media visual tampak pada temuan-temuan penelitian yang menyatakan bahwa lambang visual atau gambar memudahkan bagi peserta didik untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu peserta didik yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Bisa juga dikatakan bahwa media pembelajaran mempunyai fungsi untuk mengakomodasikan peserta didik yang lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal (dengan kata-kata). Dengan adanya media pembelajaran yang berbentuk tiga dimensi misalnya akan memudahkan peserta didik untuk menangkap maksud dari keterangan widyaiswara sebagai pendidik dengan melakukan pengamatan langsung terhadap media tersebut. Sehingga peserta didik yang tadinya sulit menangkap maksud dari keterangan widyaiswaranya karena disampaikan secara lisan maka dengan adanya sample yang nyata akan mempengaruhi imajinasi peserta didik untuk memahami maksud dari keterangan widyaiswaranya.
Alat peraga dalam belajar mengajar memegang peranan penting sebagai alat bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif (Sudjana, 2005 : 99). Dengan dihadirkannya alat peraga sebagai media pembelajaran peserta didik tidak hanya mendengar kata-kata yang sifatnya verbal, akan tetapi juga bisa melihat, dan merasakan atau meraba alat peraga tersebut, sehingga lebih memudahkan baginya untuk membangun imajinasinya.
Berikut adalah kerucut pengalaman belajar yang bisa membedakan daya serap peserta didik terhadap suatu obyek pengetahuan tertentu dengan perbedaan media :
 
Yang Ingat                                      modus
10 %    Baca   
                           
20%    Lihat                                   verbal

30%    Dengar

50%    Lihat dan dengar                  visual

70%    Katakan

90%    Katakan dan lakukan           berbuat
 
 
Dari kerucut pengalaman belajar di atas, diketahui bahwa peserta didik akan mencapai hasil belajar 10 % dari apa yang dibaca, 20 % dari apa yang di dengar, 30 % dari apa yang dilihat, 50 % dari apa yang dilihat dilihat dan di dengar, 70 % dari apa yang dikatakan, dan 90 % dari apa yang dikatakan dan dilakukan. Kerucut pengalaman belajar di atas menunjukkan betapa pentingnya alat peraga dihadirkan untuk meningkatkan daya serap peserta didik terhadap obyek pelajaran yang sedang ia pelajari. Karena dengan adanya alat peraga peserta didik tidak hanya mendengar dari widyaiswara tentang obyek pengetahuan yang sedang ia pelajari akan tetapi ia juga bisa melihat, meraba dan mengamatinya secara langsung.
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam pemilihan media pembelajaran. Pendapat Gagne dan Briggs yang dikutip oleh Mohammad Ali (1984: 73) menyarankan langkah-langkah dalam memilih media pengajaran yaitu: 1) merumuskan tujuan pembelajaran, 2) mengklasifikasi tujuan berdasarkan domein atau tipe belajar, 3) memilih peristiwa-peristiwa pengajaran yang akan berlangsung, 4) Menentukan tipe perangsang untuk tiap peristiwa, 5) mendaftar media yang dapat digunakan pada setiap peristiwa dalam pengajaran, 6) Mempertimbangkan (berdasarkan nilai kegunaan) media yang dipakai. 7) Menentukan media yang terpilih akan digunakan, 8) menulis rasional (penalaran) memilih media tersebut, 9) Menuliskan tata cara pemakaiannya pada setiap peristiwa, dan 10) Menuliskan script pembicaraan dalam penggunaan.media. Selaras dengan hal tersebut, Anderson (1976) menyarankan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu:
1. Langkah 1: Penerangan atau Pembelajaran
Langkah pertama menentukan apakah penggunaan media untuk keperluan informasi atau pembelajaran. Media untuk keperluan informasi, penerima informasi tidak ada kewajiban untuk dievaluasi kemampuan/keterampilannya dalam menerima informasi, sedangkankan media untuk keperluan pembelajaran penerima pembelajaran harus menunjukkan kemampuannya sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.

2. Langkah 2: Tentukan Transmisi Pesan
Dalam kegiatan ini kita sebenarnya dapat menentukan pilihan, apakah dalam proses pembelajaran akan digunakan ‘alat bantu pengajaran’ atau ‘media pembelajaran’. Alat bantu pengajaran alat yang didesain, dikembangkan, dan diproduksi untuk memperjelas tenaga pendidik dalam mengajar. Sedangkan media pembelajaran adalah media yang memungkinkan terjadinya interaksi antara produk pengembang media dan peserta didik/pengguna. Atau dengan kata lain peran pendidik sebagai penyampai materi pembelajaran digantikan oleh media.

3. Langkah 3: Tentukan Karakteristik Pelajaran
Asumsi kita bahwa kita telah menyusun disain pembelajaran, dimana kita telah melakukan analisis tentang mengajar, merumuskan tujuan pembelajaran, telah memilih materi dan metode. Selanjutnya perlu dianalisis apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan itu termasuk dalam ranah kognitif, afektif atau psikomotor. Masing-masing ranah tujuan tersebut memerlukan media yang berbeda.

4. Langkah 4: Klasifikasi Media
Media dapat diklasifikasikan sesuai dengan ciri khusus masing-masing media. Berdasarkan persepsi dria manusia normal media dapat diklasifikasikan menjadi media audio, media video, dan audio visual. Berdasarkan ciri dan bentuk fisiknya media dapat dikelompokkan menjadi media proyeksi (diam dan gerak) dan media non proyeksi (dua dimensi dan tiga dimensi). Sedangkan jika diklasifikasikan berdasarkan keberadaannya, media dikelompokkan menjadi dua yaitu media yang berada di dalam ruang kelas dan media-media yang berada di luar ruang kelas. Masing-masing media tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan bila dibandingkan dengan media lainnya.

5. Langkah 5: Analisis karakteristik masing-masing media
Media pembelajaran yang banyak macamnya perlu dianalisis kelebihan dan kekurangannya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pertimbangan pula dari aspek ekonomi dan ketersediaannya. Dari berbagai alternatif kemudian dipilih media yang paling tepat.

Menjaga Kesehatan Mental

menjaga kesehatan mentalKesehatan mental adalah salah satu bagian penting dari kehidupan kita. Namun, seringkali kesehatan mental diabaikan oleh kebanyakan orang. Mereka berfokus pada kesehatan fisik saja misalnya dengan berolahraga, menjaga pola makan dan berbagai kegiatan lainnya. Padahal, kesehatan mental dapat berpengaruh bukan saja terhadap kehidupan sehari-hari, tetapi juga terhadap masa depan. Kesehatan mental yang baik diperlukan agar dapat menjalani kehidupan harian dengan baik dan menghasilkan masa depan yang baik pula. Orang tua terutama wajib menanamkan kesehatan mental yang baik bagi anak mereka sehingga di kemudian hari, anak tersebut juga dapat menjaga kesehatan mentalnya. Apa saja hal penting yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk menjaga kesehata mental?

Tips Menjaga Kesehatan Mental

- Ibadah
Kesehatan mental sangat berhubungan dengan kebutuhan rohani. Oleh karena itu, hal yang paling penting untuk dilakukan dalam menjaga kesehatan mental adalah dengan beribadah. Ibadah yang disertai doa adalah cara efektif dalam mengatasi masalah kesehatan mental.
- Apresiasi karya seni
Lukisan, musik, tarian serta berbagai bentuk apresiasi karya seni lainnya dapat memberikan kesegaran pikiran. Selain menikmati, membuat karya seni itu sendiri untuk dapat dinimkati oleh orang lain juga berpengaruh dalam kesehatan mental, yakni membangun kepercayan dan harga diri seseorang. Pilihan musik yang baik untuk menjaga kesehatan mental adalah musik yang lembut, sebab musik keras serta hingar bingar justru akan menjadi beban mental. Ada pula jenis musik yang dapat menekan perasaan sehingga merusak mental.
- Rekreasi
Berkutat dalam pekerjaan dapat menguras otak. Itulah sebabkan kita hendaknya menyisihkan setidaknya satu ataupun setengah hari dalam seminggu untuk menikmati rekreasi. Namun, tidak semua rekreasi bermanfaat untuk kesehatan mental. Rekreasi yang paling baik adalah yang berhubungan dengan alam seperti misalnya memandang keindahan alam atau menikmati pantai.
- Cinta dan kasih sayang
Memberikan serta menerima kasih sayang akan memberikan sukacita dan membangun rasa percaya diri dan sifat baik lainnya. Oleh karena itu, para orang tua sebaiknya memberikan perhatian dan bentuk kasih sayang yang cukup pada anak mereka.
- Pengaruh Lingkungan
Lingkungan pun pengaruhnya besar dalam menjaga kesehatan mental. Lingkungan yang baik akan menghasilkan kondisi mental yang baik pula. Karena itu, ikut dalam komunitas yang menghasilkan dukungan dan rutin berpartisipasi di dalamnya akan menghasilkan pikiran yang positif dalam diri kita, membantu mengatasi masalah dalam hidup dan menjaga mental.
- Menghindari hiburan yang merusak pikiran
Percayalah apa yang kita lihat dan nikmati, mempengaruhi pikiran dan tindakan kita sehari-hari. Karena itu, tontonan yang bersifat tidak baik juga akan mengganggu kesehatan mental, misalnya film kekerasan, video atau game online kekerasan, serta pornografi. Memang, kelihatannya hiburan demikian bersifat menghibur, namun pada akhirnya memberikan emosi negatif dalam keseimbangan jiwa seseorang, bahkan menyebabkan depresi.
- Membangun diri
Membangun diri dapat menjaga kesehatan mental dengan menata diri kita sendiri. Bangun kebiasaan diri yang baik misalnya dengan tidak menunda pekerjaan, meningkatkan sifat rajin, dan lain-lain
- Olahraga dan nutrisi
Ya, olahraga dan pola makan yang baik pun bukan hanya untuk menjaga kesehatan fisik tetapi juga menjaga kesehatan mental. Jadi, lakukan olahraga teratur dan jaga nutrisi  yang cukup sebagai asupan bagi tubuh,
Kesehatan mental yang baik akan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bahkan sangat dibutuhkan oleh orang lain di sekitarnya. Karena itu, mari menjaga kesehatan mental dengan berbagai tips di atas!