PENERAPAN MEDIA PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS DIKLAT
A. Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menjelaskan bahwa pendidikan dalam pembangunan nasional berupa
mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia
Indonesia seutuhnya. Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan
manusia Indonesia seutuhnya, artinya manusia yang beriman dan bertaqwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan
kebangsaan. Tujuan pendidikan nasional, apabila ditinjau dari taksonomi
tujuan pendidikan lebih memfokuskan pada ranah afektif atau sikap. Ranah
afektif terlihat pada kalimat Beriman dan bertaqwa, berbudi pekerti
luhur, kepribadian yang mantap dan rasa tanggung jawab. Ranah kognitif
pada kalimat pengetahuan dan ranah psikomotor pada kalimat keterampilan
dan kesehatan jasmani.
Kegiatan belajar merupakan kegiatan aktif peserta didik untuk membangun
makna atau pemahaman terhadap suatu objek atau suatu peristiwa.
Sedangkan, kegiatan mengajar merupakan upaya kegiatan menciptakan
suasana yang mendorong inisiatif, motivasi dan tanggung jawab pada
peserta didik untuk selalu menerapkan seluruh potensi diri dalam
membangun gagasan melalui kegiatan belajar sepanjang hayat. Gagasan dan
pengetahuan ini akan membentuk keterampilan, sikap, dan perilaku
sehari-hari sehingga peserta didik akan berkompeten dalam bidang yang
dipelajarinya. Kegiatan belajar dan mengajar inilah yang disebut orang
sebagai pembelajaran (Depdiknas, 2003 : 10).
Alat bantu belajar merupakan semua alat yang dapat digunakan untuk
membantu peserta didik melakukan perbuatan belajar, sehingga kegiat¬an
belajar menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan bantuan berbagai alat,
maka pelajaran akan lebih menarik, menjadi konkrit, mudah dipahami,
hemat waktu dan tenaga, dan hasil belajar lebih bermakna. Alat bantu
belajar disebut juga alat peraga atau media belajar, misalnya dalam
bentuk bahan tercetak, alat-alat yang dapat dilihat, alat yang dapat
didengar (media audio), dan alat-alat yang dapat didengar dan dilihat
(audio visual aids), serta sumber–sumber masyarakat yang dapat dialami
secara langsung (Hamalik, 1999 : 51).
Media pembelajaran adalah sarana yang dapat dimanipulasikan dan dapat
digunakan mempengaruhi pikiran, perasaan, perhatian dan sikap peserta
didik, sehingga mempermudah terjadinya proses pembelajaran. Pikiran,
perasaan, perhatian dan sikap peserta didik dalam pembelajaran dapat
dirangsang dengan menggunakan media pembelajaran. Pemanfaatan media
pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran.
Efektifitas dapat diartikan sejauh mana hal-hal yang direncanakan dapat
terlaksana.dalam arti bahwa apabila hasilnya menunjukan presentase yang
besar atau tidak jauh dari perencanan maka dapat dikatakan bahwa hal
tersebut cukup efekif dan sebaliknya apabila hasilnya jauh dari
perencanaan yang ada maka dapat dikatakan hal tersebut tidak efektif
(Henyat, 1993: 50). Dengan digunakannya media pembelajaran, maka
diharapkan peserta didik akan mudah dalam menyerap mata pelajaran yang
dipelajari, sehingga akan mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
B. Pendidikan dan Pelatihan
Semua karyawan yang baru bekerja, pada umumnya masih belum mempunyai
kecakapan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan oleh perusahaan di mana
ia bekerja. Tidak jarang pada karyawan baru yang diterima bekerja tidak
mempunyai kemampuan secara penuh untuk melaksanakan tugas-tugas
pekerjaan mereka. Setelah karyawan direkrut, dipilih dan dilantik atau
diperkenalkan, selanjutnya dia harus dikembangkan agar lebih sesuai
dengan pekerjaan dan organisasi atau perusahaan. Tidak seorangpun yang
sepenuhnya sesuai pada saat pengangkatan, sehingga harus dilakukan
pendidikan dan latihan.
Moekijat (1990 : 58-62) menjelaskan berbagai jenis pendidikan dan latihan bagi pegawai yaitu :
a. Pendidikan dan latihan awal, yaitu pendidikan dan latihan yang
bersifat pra jabatan (pre service training) dengan tujuan memberikan
pengetahuan, kemampuan, penyesuaian sikap dan kepribadian dengan tugas
jabatan yang akan dipangkunya bagi pegawai yang belum mempunyai status
pegawai atau calon pegawai.
b. Pendidikan dan latihan jabatan struktural, yaitu pendidikan dan
latihan yang menyangkut peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan
kemampuan guna memenuhi persyaratan jabatan struktural tertentu.
c. Pendidikan dan latihan kedinasan, yaitu upaya pemberian bekal atau
peningkatan atau pemantapan pengetahuan dan ketrampilan yang sesuai
dengan profesinya.
d. Pendidikan dan latihan khusus, yaitu pendidikan dan latihan yang
menyangkut peningkatan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan keahlian
khusus yang bermanfaat bagi pegawai.
e. Pendidikan dan latihan penataran, yaitu pendidikan dan latihan
guna meningkatkan pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan keahlian
pegawai sesuai dengan bidang tugasnya dalam meningkatkan daya guna dan
hasil guna pegawai.
f. Pendidikan dan latihan penjenjangan, yaiu pendidikan dan latihan
yang terdiri dari berbagai tingkatan, disesuaikan dengan kualitas yang
diperlukan untuk memelihara kontinuitas pembinaan aparatur pemerintah
dan diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan jabatan yang sama, dan
atau perpindahan jabatan yang setingkat serta persiapan bagi mereka yang
akan dipromosikan ke jenjang golongan kepangkatan atau jabatan yang
setingkat lebih tinggi.
Kegiatan pendidikan dan latihan yang dilakukan perusahaan menurut Handoko (1995 : 103) mempunyai dua tujuan utama yaitu :
a. Pendidikan dan latihan dilakukan untuk menutup gap antara kecakapan atau kemampuan karyawan dengan permintaan jabatan.
b. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan
efektivitas kerja karyawan dalam mencapai sasaran-sasaran kerja yang
telah ditetapkan.
Berdasarkan pada tujuan pendidikan dan latihan tersebut, dapat diketahui
bahwa program tersebut ternyata tidak saja diperlukan oleh karyawan
baru, tetapi juga duperlukan oleh karyawan yang sudah bekerja lama yang
ditujukan untuk peningkatan prestasi kerja mereka.
Pendidikan dan latihan yang dilakukan perusahaan terhadap karyawannya
dilakukan dengan mendasarkan pada kebutuhan, tujuan-tujuan dan
sasaran-sasaran program, isi dan prinsip-prinsip belajar. Bagaimanapun,
seseorang seharusnya tidak berhenti belajar setelah menamatkan
sekolahnya (pendidikan formal), karena belajar adalah suatu proses
seumur hidup (life-long process), sehingga pendidikan dan latihan
bersifat kontinyu dan dinamis.
C. Pengertian Pembelajaran
Istilah pendidikan mengandung unsur bimbingan pengajaran dan latihan.
Pendidikan lebih menitikberatkan pada pembentukan kepribadian, bimbingan
berhubungan dengan bantuan kepada peserta didik agar dapat menyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Pengajaran berhubungan dengan penyampaian
pengetahuan kepada peserta didik. Latihan berhubungan dengan pemberian
atau pembentukan ketrampilan kepada peserta didik (Hamalik, 1999 : 55).
Dalam rangka pengajaran, perkembangan selanjutnya dewasa ini di
populerkan istilah pembelajaran. Pengajaran atau instruction titik berat
tinjauannya dari segi pendidik atau guru, sedangkan pembelajaran lebih
menitik beratkan tinjauannya dari segi peserta didik. Menurut Hamalik
(1999 : 57) pembelajaran merupakan kombinasi yang tersusun atas
unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur
yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Unsur manusia
terdiri atas peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lainnya. Unsur
material meliputi buku-buku, papan tulis, kapur, fotografi, slide, film
audio, audio tape, fasilitas dan perlengkapan terdiri atas ruangan
kelas, perlengkapan, audio visual, komputer. Produser meliputi jadwal,
metode penyampaian informasi, praktek, belajar, evaluasi / ujian dan
sebagianya. Dalam kegiatan pembelajaran ada dua kegiatan yang terjadi,
yaitu guru mengajar dan peserta didik belajar. Jadi ada dua peristiwa
atau proses menjadi satu, yaitu proses belajar mengajar untuk
selanjutnya dipakai pembelajaran.
D. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran dapat dilihat dari kebutuhan peserta didik, mata
pelajaran dan guru. Berdasarkan kebutuhan peserta didik dapat ditetapkan
apa yang hendak dicapai, dan dikembangkan dan diapresiasikan.
Berdasarkan mata pelajaran yang ada dalam petunjuk kurikulum dapat
ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Guru sendiri adalah
sumber utama tujuan bagi para peserta didik, dan guru harus mampu
menulis dan memilih tujuan-tujuan pendidikan yang bermakna, dan dapat
terukur (Hamalik, 1999 : 76).
Dalam pembelajaran harus memperhatikan tujuan dari pembelajaran, di mana
tujuan program kegiatan belajar adalah membantu meletakan dasar kearah
perkembangan sikap, pengetahuan keterampilan, dan daya cipta anak didik
untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan serta
perkembangan selanjutnya.
E. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti
tengah, perantara, atau pengantar. Dalam bahasa arab, media adalah
perantara (wasaail) atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima
pesan (Arsyad, 2004 : 3).
Adapun Gerlach dan Ely (dalam Arsyad :3) mengatakan bahwa media apabila
dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang
membangun kondisi yang membuat peserta didik mampu memperoleh
pengetahuan, keterampilan atau sikap.
Menurut definisi di atas dapat dipahami bahwa guru, buku teks, dan
lingkungan sekolah merupakan media yang menjadi perantara atau penyampai
pesan kepada peserta didik. Guru termasuk juga sebagai media karena
guru sebagai tenaga pengajar bekerja untuk mentransfer pengetahuan yang
dimilikinya (penyampai ilmu atau ajaran) kepada peserta didik. Begitu
pula buku bisa dikatakan sebagai media karena buku memuat informasi yang
dibutuhkan oleh peserta didik untuk dipelajari dan dipahami. Lingkungan
sekolah sebagai tempat dimana peserta didik belajar dan berinterakasi
dengan warga sekolah jelas merupakan media yang akan memberikan pesan,
berita, atau kabar kepada peserta didik, namun besar tidaknya pesan yang
didapat oleh peserta didik bergantung pada kreatifitas peserta didik
dalam mencari pesan melalui lingkunganya.
Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar
diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis atau elektronis untuk
menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Istilah media sering dipakai dalam dunia komunikasi yang disebut dengan
media komunikasi. Media komunikasi inilah di era kekinian dimanfaatkan
dalam dunia pendidikan untuk menunjang jalanya proses belajar mengajar.
Danim (2000 : 2) menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi komunikasi untuk
kegiatan pendidikan, teknologi pendidikan serta media pendidikan perlu
dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Karena dengan pendekatan ilmiah,
sistematis dan rasional, sebagaimana dituntut oleh teknologi pendidikan
ini pulalah, tujuan pendidikan yang efektif dan efisien akan tercapai.
Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan proses komunikasi
antara pendidik dan peserta didik untuk melakukan transfer pengetahuan
(knowledge), maupun penanaman (internalisasi) nilai-nilai (values). Maka
pendidik di sini disebut sebagai mediator yang menyampaikan
informasi-informasi tentang pengetahuan yang dimilikinya kepada peserta
didik, atau juga dalam rangka menanamkan nilai-nilai luhur suatu ajaran,
baik yang bersumber pada budaya bangsa, masyarakat, atau kelompok agama
tertentu.
Adapun definisi media menurut para ahli adalah sebagai berikut: (1) AECT
(Asociation Of Education And Communication Technologi) mendefinisikan
media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk
menyampaikan informasi. Sedangkan media pembelajaran adalah segala
sesuatu yang digunakan orang untuk menyampaikan pesan (Depdiknas, 2003
:10). Yang dimaksud sesuatu di sini adalah apa saja yang memiliki guna
sebagai perantara untuk menyampaikan pesan entah itu berupa lisan atau
alat peraga yang mengisyaratkan maksud tertentu dan bisa dipahami oleh
orang yang menerima pesan, atau dalam konteks pembelajaran adalah
peserta didik didik (pelajar), atau muta’allim dalam bahasa arabnya. (2)
Heinich dan kawan-kawan memberi batasan tentang media sebagai
perantara yang mengantar informasi antara sumber dan penerima (Arsyad,
2004: 4).
Jadi televisi, radio, film, foto, rekaman audio, gambar yang
diproyeksikan, bahan cetakan dan sejenisnya adalah media yang disebut
dengan media komunikasi. Namun apabila media-media itu membawa
pesan-pesan atau informasi-informasi yang bertujuan instruksional atau
mengandung maksud-maksud pengajaran maka media itu disebut dengan media
pembelajaran.
Bagaimana apabila media pembelajaran dihubungkan dengan media pendidikan
?. Media pendidikan tentu saja media yang digunakan dalam proses dan
untuk mencapai tujuan pendidikan (Depdiknas, 2003 : 10). Pada hakekatnya
media pendidikan juga merupakan media komunikasi, karena proses
pendidikan juga merupakan proses komunikasi. Apabila kita namdingakan
dengan media pembelajaran, maka media pendidikan sifatnya lebih umum,
sebagaimana pengertian pendidikan itu sendiri. Sedang media pembelajaran
memiliki sifat yang lebih khusus, maksudnya media pembelajaran
merupakan bagian dari media pendidikan yang secara khusus digunakan
untuk mencapai tujuan belajar tertentu yang telah dirumuskan secara
khusus. Tidak semua media pendidikan adalah media pembelajaran, akan
tetapi setiap media pembelajaran merupakan bagian dari media pendidikan.
Sementara Gagne dan Briggs (Arsyad, 2004: 5) secara implisit mengatakan
bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk
menyampaikan isi materi pengajaran, yang terdiri dari antara lain buku,
tape recorder, video camera, video recorder, film, slide (gambar
bingkai), foto, gambar, grafik, bingkai, dan komputer. Dengan kata lain
media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung
materi instruksional di lingkungan peserta didik yang dapat merangsang
peserta didik untuk belajar. Di lain pihak National Education Asociation
memberikan definisi media sebagai bentuk-bentuk komunikasi baik
tercetak maupun audio-visual dan peralatannya; dengan demikian media
dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, atau dibaca.
Dalam kegiatan belajar mengajar, pemakaian kata media pembelajaran
(wasaa’il at ta’limiyah) digantikan dengan istilah-istilah seperti alat
pendengar, bahan pengajaran (instrucsional material), komunikasi pendang
dengar (audio visual communication), pendidikan alat peraga pandang
(visual education) teknologi pendidikan (educational technology), alat
peraga (wasaail al-iidzochi) dan media penjelas (wasaail at
taudhiichiyyah ) (Arsyad, 2004 : 6).
Berdasarkan uraian beberapa definisi tentang media di atas, berikut
dikemukakan karakteristik umum yamg melekat pada setiap definisi
tersebut.
a Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal
dengan istilah hardware (perangkat keras), yaitu suatu benda yang dapat
dilihat, didengar, atau diraba dengan pancaindera.
b Media pendidikan yang memiliki pengertian nonfisik yang sering
disebut dengan istilah software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan
yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan materi atau
informasi-informasi yang hendak disampaikan kepada peserta didik.
c Media pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi media visual,
audio, dan audio-visual. Media visual yaitu media yang memiliki bentuk,
dapat dilihat, dan dapat diraba. Media audio yaitu media yang hanya
dapat di dengar saja. Adapun media audio visual adalah media yng
memiliki bentuk dapat dilihat, dan diraba, serta dapat pula di dengar
karena menyerupai makhluk hidup yang mengeluarkan suara.
d Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar
baik yang berada di dalam maupun yang berada di luar kelas.
e Media pendidikan dalam rangka komunikasi dan interaksi antara guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
f Media pendidikan dapat digunakan secara massal (misalnya : radio
dan televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya, film, slide,
video dan OHP), atau perorangan (misalnya modul, komputer, radio, dan
tape recorder).
g Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
Berbeda denga para ahli yang telah tersebut dalam beberapa paragraf
terdahulu. Slameto (2003 :67) menyebut media pembelajaran dengan alat
pelajaran. Alat pelajaran erat hubunganya dengan cara belajar peserta
didik, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru pada waktu mengajar
dipakai pula oleh peserta didik untuk menerima bahan yang diajarkan oleh
guru tersebut. Alat pelajaran yang tepat akan memperlancar penerimaan
bahan pelajaran yang diberikan kepada peserta didik. Jika peserta didik
mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan menjadi
lebih giat dan lebih maju.
Realita saat ini dengan banyaknya tuntutan yang masuk sekolah, maka
memerlukan alat-alat yang membantu lancarnya belajar peserta didik dalam
jumlah yang besar pula, seperti buku-buku di perpustakaan, laboratorium
atau media-media lain. Kebanyakan sekolah masih kurang memiliki media
dalam jumlah maupun kualitasnya, sehingga terkadang proses belajar
mengajar dilaksanakan secara alakadarnya, dan bisa dipastikan hasilnya
juga jauh dari kondisi ideal, yakni output pendidikan yang berkualitas
tinggi.
F. Ciri-ciri Media Pembelajaran
Gerald dan Ely (Arsyad, 2004 : 12) mengemukakan tiga ciri media yang
merupakan petunjuk mengapa media digunakan dalam pembelajaran, yang
dapat dilakukan media dalam membantu seorang guru menjelaskan atau
menerangkan sebuah materi pelajaran. Ciri-ciri tersebut adalah :
a. Ciri Fiksatif (fixatife property)
Ciri ini mendiskripsikan kemampuan media untuk merekam, menyimpan,
melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek. Suatu
peristiwa atau obyek dapat diurut dan disusun secara sistematis dan
kronologis melaui media seperti fotografi, video tape, audio tape,
disket komputer, dan film. Suatu obyek yang telah diambil gambarnya
(direkam) dengan menggunakan kamera atau video kamera dapat direproduksi
(dibuat ulang) dengan mudah kapan saja dibutuhkan. Dengan ciri fiksatif
ini, media memungkinkan suatu rekaman kejadian atau obyek yang terjadi
pada suatu waktu tertentu dapat ditransportasikan tanpa mengenal waktu,
karena telah diabadikan melalui rekaman.
Ciri-ciri yang sangat penting bagi guru adalah karena kejadian-kejadian
atau obyek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada
dapat digunakan setiap saat. Peristiwa yang kejadianaya hanya sekali
(dalam satu dekade atau satu abad) dapat diabadikan dan disusun kembali
untuk keperluan suatu pengajaran, gerhana matahari, atau gunung meletus
misalnya. Prosedur laboratorium yang rumit dapat direkam dan diatur
untuk kemudian direproduksi kembali ketika dibutuhkan untuk kepentingan
pengajaran. Begitu pula kegiatan peserta didik dapat diabadikan dan
direkam untuk kemudian dilakukan proses evaluasi baik oleh peserta didik
sendiri secara perorangan maupun secara kelompok.
b. Ciri Manipulatif (manipulatif property)
Merubah suatu kejadian atau obyek dimungkinkan karena media memiliki
ciri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat
disajikan kembali kepada peserta didik dalam waktu yang singkat dengan
teknik pengambilan gambar. Misalnya, bagaimana proses larva menjadi
kepompong kemudian menjadi kupu-kupu (metamorfosis kupu-kupu) dapat
dipercepat dengan tehnik rekaman fotografi. Disamping dapat dipercepat
suatu kejadian, suatu kejadian dapat juga diperlambat pada saat
menayangkan kembali hasil sustu rekaman video, dengan memanfaatkan
fasilitas yang ada pada video. Misalnya reaksi kimia atau untuk
mengetahui kebenaran terjadinya pelanggaran dalam suatu permainan sepak
bola dapat diamati melalui bantuan kemampuan manipulatif dari media.
Demikian pula suatu aksi atau suatu gerakan dapat direkam dengan foto
kamera agar bisa diamati atau sekedar dilihat saja.
Pada rekaman gambar hidup seperti film kejadian dapat diputar mundur.
Media (rekaman video atau audio) dapat diedit sehingga guru hanya
menampilkan bagian-bagian inti atau bagian utama dari keterangan atau
kejadian yang sedang dijelaskan oleh guru kepada peserta didiknya,
sedangkan bagian-bagian yang tidak begitu diperlukan dapat dipotong atau
dilewati dengan menggunakan fasilitas yang ada pada media yang
merupakan hasil dari tekhnologi mutakhir.
Kemampuan media dari ciri manipulatif memerlukan keseriusan dan
kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan dalam memanipulasi isi yang
ada pada media, semisal jika terjadi kesalahan pemotongan suatu kejadian
dalam rekaman video bisa jadi akan menimbulkan salah penafsiran bagi
peserta didik yang sedang mendapat tugas untuk melakukan pengamatan
terhadap isi dari rekaman video tersebut.
Memanipulasi atau merubah suatu kejadian atau obyek tertentu dengan
memanfaatkan atau dengan cara mengedit hasil rekaman dapat menghemat
waktu. Semisal proses penanaman gandum hingga masa panen tiba, kemudian
gandum diolah menjadi tepung sebagai bahan baku untuk membuat roti dapat
disajikan secara singkat dalam suatu rekaman. Sehingga memiliki nilai
efisiensi yang tinggi dan tentunya juga sangat efektif, karena mengamati
suatu hal yang nampak tentunya tidak sesulit mengamati hal
abstrak.
c. Ciri Distributif (distributif property)
Ciri distributif dari media memungkinkan suatu obyek atau suatu
informasi untuk ditransformasikan melalui ruangan dan secara bersamaan
disajikan kepada peserta didik. Dewasa ini distribusi media tidak
terbatas pada satu kelas saja, atau dalam satu lingkup sekolah saja,
akan tetapi media pembelajaran seperti kaset rekaman, video, atau disket
komputer bisa didistribusikan kemana saja sesuai dengan kebutuhan.
Karena media seperti itu merupakan media praktis dengan bobot ringan dan
ukurannya juga tidak besar, sehingga ada kemudahan untuk
mendistribusikannya ke daerah terpencil sekalipun, tinggal ada atau
tidak peralatan pendukung yang digunakan untuk mengoperasikan media
tersebut.
Sebuah informasi atau suatu kejadian yang direkam dalam suatu waktu,
bisa diproduksi ulang beberapa kali dan siap untuk digunakan secara
bersamaan meskipun dalam tempat yang terpisah. Semisal proses perubahan
katak mulai dari telur katak, kemudian berubah menjadi kecebong, dan
akhirnya menjadi katak dewasa dapat direkam melalui handycam. Kemudian
proses metamorfosa katak yang telah terekam melalui handycam ini dapat
digandakan dan disebarluaskan ke seluruh pelosok sekolah yang ada di
Indonsia misalnya untuk dijadikan sebagai media yang mempermudah seorang
pendidik untuk menyampaikan pengetahuan tentang metamorfosa katak ini
kepada para peserta didiknya. Dan informasi yang telah terekam ini juga
tidak rusak hanya dalam sekali waktu pemakaian saja kecuali terjadi
kerusakan tertentu yang disebabkan oleh hal-hal nonteknis, sehingga
ketika diputar ulang dalam waktu dan ruang yang berbeda isinya akan
tetap sama
G. Macam-Macam Media Pembelajaran
Seperti telah diuraikan pada pembahasan terdahulu bahwa media
pembelajaran merupakan pesan, orang, dan peralatan. Seiring
berkembangnya teknologi yang merupakan hasil kreatifitas manusia masa
kini, maka media pembelajaran masa kini juga berkembang begitu pesatnya,
bahkan media pembelajaran masa kini sudah banyak yang menggunakan
teknologi dalam pengoperasianya selain media itu sendiri juga merupakan
produk yang dihasilkan oleh teknologi.
Media pembelajaran modern antara lain radio, televisi, tape recorder,
komputer, internet, OHP, proyektor dan lain-lain. Semua media
pembelajaran tersebut merupakan hasil pemikiran manusia yang diwujudkan
dalam dunia nyata. Namun sayangnya meskipun media pembelajaran berbasis
teknologi telah berkembang begitu pesatnya, akan tetapi tidak banyak
guru atau pendidik yang memiliki kecakapan untuk mengoperasikan media
tersebut meskipun mereka telah mengenalnya. Apapun kendalanya, baik
karena tidak bisa mengaktifkan media tersebut atau kendala pendanaan.
Meskipun bisa mengoperasikan akan tetapi karena sekolah atau guru
pribadi tidak memilikinya, sehingga tidak bisa diperagakan di hadapan
peserta didiknya.
Namun tentunya usaha-usaha untuk mewujudkan media pembelajaran berbasis
teknologi perlu mendapatkan perhatian serius oleh para penyelenggara
pendidikan, karena efektifitas dan efisiensi media tersebut dalam
menunjang proses belajar mengajar tidak bisa dinafikan.
Ada berbagai cara dan sudut pandang untuk mengklasifikasikan media
pembelajaran. Misalnya mengidentifikasi media pembelajaran berdasarkan
tiga unsur pokok, yaitu suara, visual, dan gerak. Berdasarkan tiga unsur
pokok tersebut Bretz (Rahadi, 2003 :21) mengklasifikasikan media ke
dalam tujuh kelompok, yaitu : media audio, media cetak, media visual
diam, media visual gerak, media audio semi gerak, media semi gerak,
media audio visual diam, media audio visual gerak.
Anderson (Rahadi, 2003 :21) mengelompokkan media menjadi 10 golongan sebagai berikut :
|
No.
|
Golongan Media
|
Contoh dalam
Pembelajaran
|
|
1.
|
Audio
|
Kaset tape recorder, cd audio,
siaran radio, dan telepon atau telewicara.
|
|
2.
|
Cetak
|
Buku pelajaran, modul, brosur,
leaflet, gambar, dan makalah.
|
|
3.
|
Audio-cetak
|
Kaset audio yang dilengkapi ahan
tertulis
|
|
4.
|
Proyeksi visual diam
|
Overhead
Tranparansi (OHT) dan film bingkai (slide)
|
|
5.
|
Proyeksi audio visual diam
|
Film bingkai (slide) bersuara
|
|
6.
|
Visual gerak
|
Film bisu
|
|
7.
|
Audio visual gerak
|
Film gerak
bersuara, VCD, dan televisi
|
|
8.
|
Obyek fisik
|
Benda nyata, model, spesimen
|
|
9.
|
Manusia dan lingkungan
|
Guru, Budayawan, Ekonom,
Pustakawan, laboratorium, kebun binatang, cagar alam, sungai, hutan, sawah,
dan lautan
|
|
10.
|
Komputer
|
CAI (pembelajaran berbantuan
komputer) dan CBI (pembelajaran berbasis komputer)
|
Klasifikasi berbagai macam media berdasarkan perkembangan teknologi
menurut Seel dan Glasgow (Arsyad, 2004 : 33) dibagi ke dalam dua
kategori luas yaitu : pilihan media tradisional dan pilihan media
teknologi mutakhir :
a. Pilihan Media Tradisional :
1) Visual diam yang diproyeksikan seperti : proyeksi opaque (tidak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, filmstrips.
2) Visual yang tidak diproyeksikan seperti : gambar dan poster, foto,
charts, grafik, diagram, pameran, papn info, papan-bulu.
3) Audio seperti rekaman piringan, pita kaset, reel, catridge.
4) Penyajian multimedia, slide plus suara (tape), multi-image.
5) Visual dinamis yang diproyeksikan seperti film, televisi, video.
6) Cetak seperti buku teks, modul, teks terprogram, workbook, majalah ilmiah berkala, lembaran lepas (hand out), koran.
7) Permainan seperti teka-teki, simulasi, permainan papan.
8) Realita seperti model, specimen (contoh), manipulatif (peta, boneka)
b. Pilihan Media Teknologi Mutakhir
1) Media berbasis telekomunikasi seperti telekonferen dan kuliah jarak jauh.
2) Media berbasis mikroposesor seperti computer-assisted instruction,
permainan komputer, sistem tutor inteligen, interaktif, hypermedia,
compact (video) disc.
Dari beberapa pengelompokan media tersebut dapat kita ketahui bahwa
belum ada media yang mencakup segala aspek, terlebih bagi media yang
dimanfaatkan untuk memudahkan penyampaian pesan atau informasi
pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik dalam proses belajar
mengajar atau sering disebut dengan media pembelajaran. Media
pembelajaran yang ada dibuat dan disajikan atas dasar
kepentingan-kepentingan tertentu.
Alangkah baiknya bagi seorang pendidik atau seorang guru untuk
senantiasa mengikuti perkembangan teknologi terlebih yang berkaitan
dengan media pembelajaran. Akan menjadi lelucon nantinya apabila seorang
guru tidak lebih mengenal perkembangan teknologi informasi yang sering
dimanfaatkan untuk media pembelajaran dibanding peserta didik-peserta
didiknya. Bahkan secara psikologis juga bisa berdampak pada jatuhnya
wibawa seorang guru dihadapan peserta didik karena peserta didik merasa
bahwa dirinya lebih maju dari gurunya ketika mengetahui kenyataan
gurunya gaptek (gagap teknologi) sehingga peserta didik memiliki
kemungkinan untuk mendapatkan informasi yang lebih banyak daripada
gurunya mengenai suatu pengetahuan tertentu.
H. Pemanfaatan Media Pembelajaran Untuk Meningkatkan Efektivitas Diklat
Pendidikan yang bermutu merupakan syarat utama untuk mewujudkan
kehidupan bangsa yang maju, modern dan sejahtera. Sejarah perkembangan
dan pembangunan bangsa-bangsa mengajarkan pada kita bahwa bangsa yang
maju, modern, makmur, dan sejahtera adalah bangsa-bangsa yang memiliki
sistem dan praktik pendidikan yang bermutu. Sementara itu, pendidikan
yang bermutu sangat tergantung pada keberadaan guru yang bermutu, yakni
guru yang profesional, sejahtera, dan bermartabat.
Dalam suatu proses belajar mengajar yang terpenting dikuasai oleh
seorang guru adalah metode mengajar dan kemampuan widyaiswara untuk
menggunakan media pembelajaran. Metode pengajaran yang digunakan oleh
widyaiswara akan menentukan media pembelajaran apa yan akan digunakan
oleh widyaiswara. Meskipun disadari ada aspek lain yang menentukan
keputusan seorang widyaiswara untuk menggunakan media pembelajaran
tertentu seperti tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang
diharapkan dikuasai oleh peserta didik setelah proses pengajaran
berlangsung, konteks pembelajaran, dan tentunya juga karakteristik
peserta didik yang diajar. Namun demikian dapat dikatakan bahwa salah
satu fungsi utama dari media pembelajaran adalah sebagai alat bantu
mengajar yang memiliki peran untuk mempengaruhi iklim, kondisi, dan
lingkungan belajar yang diatur dan diciptakan oleh seorang widyaiswara.
Hamalik (Arsyad, 2004 : 15) mengemukakan bahwa pemakaian media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan
dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan
belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap
peserta didik. Penggunaan media pembelajaran pada tahap orientasi
pengajaran akan sangat membantu keaktifan proses pembelajaran dan
penyampaian pesan dan pembelajaran pada saat itu. Selain mebangkitkan
motivasi dan minat peserta didik, media pembelajaran juga dapat membantu
peserta didik untuk meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan
menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan
informasi.
Levie dan Lentz (Arsyad, 2004 : 16), mengemukakan empat fungsi media
pembelajaran, yaitu (a) fungsi atensi, (b) fungsi afektif, (c) fungsi
kognitif, dan (d) fungsi kompensatoris.
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan
perhatian peserta didik untuk konsentrasi terhadap isi dari pelajaran
yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks
materi pembelajaran.
Fungsi afektif media pembelajaran dapat diungkap melalui tingkat
kenikmatan peserta didik ketika membawa teks bergambar. Gambar atau
lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap peserta didik sebagai
wujud responnya terhadap gambar yang dia amati. Semisal gambar yang
menyangkut masalah sosial, ras, agama, dan kebudayaan. Gambar-gambar itu
akan direspon peserta didik dengan suatu komentar dan sikap tertentu
yang menunjukkan pemikiran yang terbangun dalam diri peserta didik
setelah mengamati dan mencermati gambar tersebut.
Fungsi kognitif media, khususnya media visual tampak pada temuan-temuan
penelitian yang menyatakan bahwa lambang visual atau gambar memudahkan
bagi peserta didik untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan
yang terkandung dalam gambar.
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian
bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu
peserta didik yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi
dalam teks dan mengingatnya kembali. Bisa juga dikatakan bahwa media
pembelajaran mempunyai fungsi untuk mengakomodasikan peserta didik yang
lemah dan lambat dalam menerima dan memahami isi pelajaran yang
disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal (dengan kata-kata).
Dengan adanya media pembelajaran yang berbentuk tiga dimensi misalnya
akan memudahkan peserta didik untuk menangkap maksud dari keterangan
widyaiswara sebagai pendidik dengan melakukan pengamatan langsung
terhadap media tersebut. Sehingga peserta didik yang tadinya sulit
menangkap maksud dari keterangan widyaiswaranya karena disampaikan
secara lisan maka dengan adanya sample yang nyata akan mempengaruhi
imajinasi peserta didik untuk memahami maksud dari keterangan
widyaiswaranya.
Alat peraga dalam belajar mengajar memegang peranan penting sebagai alat
bantu untuk menciptakan proses belajar mengajar yang efektif (Sudjana,
2005 : 99). Dengan dihadirkannya alat peraga sebagai media pembelajaran
peserta didik tidak hanya mendengar kata-kata yang sifatnya verbal, akan
tetapi juga bisa melihat, dan merasakan atau meraba alat peraga
tersebut, sehingga lebih memudahkan baginya untuk membangun
imajinasinya.
Berikut adalah kerucut pengalaman belajar yang bisa membedakan daya
serap peserta didik terhadap suatu obyek pengetahuan tertentu dengan
perbedaan media :
Yang Ingat modus
10 % Baca
20% Lihat verbal
30% Dengar
50% Lihat dan dengar visual
70% Katakan
90% Katakan dan lakukan berbuat
Dari kerucut pengalaman belajar di atas, diketahui bahwa peserta didik
akan mencapai hasil belajar 10 % dari apa yang dibaca, 20 % dari apa
yang di dengar, 30 % dari apa yang dilihat, 50 % dari apa yang dilihat
dilihat dan di dengar, 70 % dari apa yang dikatakan, dan 90 % dari apa
yang dikatakan dan dilakukan. Kerucut pengalaman belajar di atas
menunjukkan betapa pentingnya alat peraga dihadirkan untuk meningkatkan
daya serap peserta didik terhadap obyek pelajaran yang sedang ia
pelajari. Karena dengan adanya alat peraga peserta didik tidak hanya
mendengar dari widyaiswara tentang obyek pengetahuan yang sedang ia
pelajari akan tetapi ia juga bisa melihat, meraba dan mengamatinya
secara langsung.
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam pemilihan media
pembelajaran. Pendapat Gagne dan Briggs yang dikutip oleh Mohammad Ali
(1984: 73) menyarankan langkah-langkah dalam memilih media pengajaran
yaitu: 1) merumuskan tujuan pembelajaran, 2) mengklasifikasi tujuan
berdasarkan domein atau tipe belajar, 3) memilih peristiwa-peristiwa
pengajaran yang akan berlangsung, 4) Menentukan tipe perangsang untuk
tiap peristiwa, 5) mendaftar media yang dapat digunakan pada setiap
peristiwa dalam pengajaran, 6) Mempertimbangkan (berdasarkan nilai
kegunaan) media yang dipakai. 7) Menentukan media yang terpilih akan
digunakan, 8) menulis rasional (penalaran) memilih media tersebut, 9)
Menuliskan tata cara pemakaiannya pada setiap peristiwa, dan 10)
Menuliskan script pembicaraan dalam penggunaan.media. Selaras dengan hal
tersebut, Anderson (1976) menyarankan langkah-langkah yang perlu
ditempuh dalam pemilihan media pembelajaran, yaitu:
1. Langkah 1: Penerangan atau Pembelajaran
Langkah pertama menentukan apakah penggunaan media untuk keperluan
informasi atau pembelajaran. Media untuk keperluan informasi, penerima
informasi tidak ada kewajiban untuk dievaluasi kemampuan/keterampilannya
dalam menerima informasi, sedangkankan media untuk keperluan
pembelajaran penerima pembelajaran harus menunjukkan kemampuannya
sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.
2. Langkah 2: Tentukan Transmisi Pesan
Dalam kegiatan ini kita sebenarnya dapat menentukan pilihan, apakah
dalam proses pembelajaran akan digunakan ‘alat bantu pengajaran’ atau
‘media pembelajaran’. Alat bantu pengajaran alat yang didesain,
dikembangkan, dan diproduksi untuk memperjelas tenaga pendidik dalam
mengajar. Sedangkan media pembelajaran adalah media yang memungkinkan
terjadinya interaksi antara produk pengembang media dan peserta
didik/pengguna. Atau dengan kata lain peran pendidik sebagai penyampai
materi pembelajaran digantikan oleh media.
3. Langkah 3: Tentukan Karakteristik Pelajaran
Asumsi kita bahwa kita telah menyusun disain pembelajaran, dimana kita
telah melakukan analisis tentang mengajar, merumuskan tujuan
pembelajaran, telah memilih materi dan metode. Selanjutnya perlu
dianalisis apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan itu termasuk
dalam ranah kognitif, afektif atau psikomotor. Masing-masing ranah
tujuan tersebut memerlukan media yang berbeda.
4. Langkah 4: Klasifikasi Media
Media dapat diklasifikasikan sesuai dengan ciri khusus masing-masing
media. Berdasarkan persepsi dria manusia normal media dapat
diklasifikasikan menjadi media audio, media video, dan audio visual.
Berdasarkan ciri dan bentuk fisiknya media dapat dikelompokkan menjadi
media proyeksi (diam dan gerak) dan media non proyeksi (dua dimensi dan
tiga dimensi). Sedangkan jika diklasifikasikan berdasarkan
keberadaannya, media dikelompokkan menjadi dua yaitu media yang berada
di dalam ruang kelas dan media-media yang berada di luar ruang kelas.
Masing-masing media tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan bila
dibandingkan dengan media lainnya.
5. Langkah 5: Analisis karakteristik masing-masing media
Media pembelajaran yang banyak macamnya perlu dianalisis kelebihan dan
kekurangannya dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Pertimbangan pula dari aspek ekonomi dan ketersediaannya. Dari berbagai
alternatif kemudian dipilih media yang paling tepat.